TERBENTUKNYA SEMESTA, DEWA DAN KEHIDUPAN DI BUMI MENURUT ALUK TO DOLO

Image Courtesy of joffo1.deviantart.com



Salah satu pertanyaan terbesar umat manusia adalah bagaimana kehidupan di bumi berawal. Terdapat penjelasan dalam kitab suci dan penjelasan dengan bukti-bukti ilmiah. Perbedaannya adalah penjelasan dalam kitab suci bersifat tidak dapat diubah sedangkan penjelasan ilmiah terus berkembang seiring berkembangnya teknologi yang digunakan.

Nenek moyang orang Toraja memiliki penjelasan mengenai asal usul manusia. Terdapat pustaka yang menjelaskan proses tersebut, demikian:

BAGIAN I: TERBENTUKNYA LANGIT DAN BUMI SERTA PARA DEWA

Menurut litani (1) yang diucapkan pada upacara-upacara penyembahan kepada dewa terutama pada upacara-upacara besar, pada mulanya alam semesta ini belum berbentuk, masih pejal dan gelap gulita. Kehidupan dan topografi bumi belum ada, langit dan bumi masih bertelangkup belum berpisah.

Suatu ketika, langit dan bumi tiba-tiba berpisah, muncullah sungai, gunung, bukit dan tanah datar. Pada saat itu pula, dari perkawinan antara langit dan bumi, lahirlah tiga serangkai (Puang titanan tallusamba' batu lalikan artinya dewa yang bersama-sama membentuk segitiga seperti ketiga tungku), para dewa pertama, yang masing-masing bernama Pong Tulakpadang (Sang Penyangga Bumi), Pong Banggairante (Sang Pemangku Bumi) dan Gauntikembong (Sang Awan Mengambang).

Ketiga dewa tersebut pertamakali menciptakan matahari, bulan dan bintang-bintang (allo, bulan sola bintoen tasak).

Kemudian bersabdalah Pong Tulakpadang: "Aku akan masuk ke perut bumi dan barangsiapa yang membuat pelanggaran akan kuhukum jikalau dia tidak bertobat".

Pong Banggairante menetap di bumi, kawin dengan Tallo' Mangka Kalena (Telur Jadi Sendiri). Dari perkawinan mereka lahir delapan orang anak, yaitu:
  1. Saripibulaan, menjadi penguasa di ujung langit,
  2. Pong Radeng, menjadi penguasa di sisi langit,
  3. Timbayokila', menjadi penguasa di dalam batu karang,
  4. Pong Tulangdenna, menjadi penguasa di perairan, parit dan sungai
  5. Tandiminanga, menjadi penguasa di laut
  6. Pong Lalondong, menjadi penguasa di Puya,
  7. Putri Indo' Pare-pare'
  8. Putri Indo' Samadenna
Karena memperebutkan benang emas, kedua putri kemudian berpisah. Indo' Pare-Pare' pergi ke matahari dan Indo' Samadenna bermigrasi ke bulan.

Sementara itu, Gauntikembong naik ke puncak langit mengikuti ayahnya, Sang Langit. Di sana ia hidup seorang diri, tanpa wanita untuk dijadikan teman hidup. Maka dari rusuknya kemudian diciptakan seorang putra bernama Usuk Sangbamban (Rusuk Sebilah).

Usuk Sangbamban lebih beruntung karena ketika ia dalam kesepian menjelajah langit mencari teman, ia mendengar suara tawa wanita dari sebuah batu besar. Sang Dewi bernama Simbolongmanik alias Lokkon Loerara (Konde Emas). Usuk Sangbamban mengutarakan niat mempersunting Simbolongmanik. Simbolongmanik tidak keberatan dengan syarat-syarat yang akhirnya bisa dipenuhi Usuk Sangbamban.

Usuk Sangbamban dengan Simbolongmanik dikarunia putra tunggal bernama Puang Matua (Dewa Tua) alias To Kaubanan (Dewa Berambut Putih). Setelah dewasa, Puang Matua, atas nasihat ibunya, pergi mencari jodoh ke dalam Batu Laulung. Di sana ia harus melaksanakan upacara seperti yang dilakukan ayahnya dulu. Puang Matua mempersunting Dewi Arrang di Batu, alias Sulo Tarongko Malia' (Cahaya Terang atau Obor di Batu).

Kutipan litani berikut melukiskan bagaimana awalnya dewa itu ada:

Apa ia tonna silopakpa langi' tana kalua'
pusa'pa ade' sangga mairi'
Ia ade' tonna sikandepa to palullungan lipu daenan
kalilipa ade' mintu' sola nasang
Tang payanpa rante kalua'
Tang sombopa pa'buntu-buntuan
Tang tibori'pa pangkalo' puang

Apa sisarak ade' langi' tana kalua'
simanta mambela ade' lipu daenan to palullungan
Payanmo ade' rante kalua'
tibori'mo ade' pangkalo' puang
Dadimo ade' anakna langi' anakna tana kalua'
Takkomi ade' kamaseanna to paonganan
Kasalle dadinna anakna langi' anakna tana
Lobo' garaganna bongsunna to palullungan lipu daenan
Disangami Pong Tulakpadang
Disangami Pong Banggairante
Disangami Gauntikembong
Umbalianganmi batu ba'tangna titanan tallu
Umbimbi'mi karangan pasiruanna samba' batu lalikan.

Terjemahan bebas:

Ketika langit dan bumi masih bersitelungkup
semuanya masih pengap
Ketika langit dan bumi masih menyatu
segalanya masih kusut
Belum nampak dataran luas
belum muncul bukit-bukit
belum terintis parit tuhan

Tetapi ketika langit dan bumi berpisah
ketika tanah dan yang melindungi saling mentap dari jauh
Nampaklah dataran luas
terintislah parit tuhan
lahirlah anak langit, anak daratan luas
jadilah buah kasih yang melindungi (langit) dan bumi
besarlah anak langit, anak dataran luas
suburlah turunan yang melindungi (langit) dan bumi
Diberi nama Puang Tulakpadang
Diberi nama Puang Banggairante
Diberi nama Gauntikembong
Lalu tiga serangkai membalikkan pikiran yang terdalam
memutar-belitkan kebijaksanaannya.

..............................................................bersambung ke bagian II

Litani:
1. Doa yg tertentu kata-katanya dan diungkapkan secara sambut-menyambut pd upacara kebaktian di gereja, mula-mula        oleh pendeta yg memimpin misa, kemudian disambut oleh seluruh jemaat (doa ini sering dinyanyikan);
2. Puisi atau prosa berirama yg berisi doa, permohonan, mantra, bentuk yg sama dapat pula dituangkan dl suatu                       komposisi musik, msl litani ciptaan Mozart; 
3. Pembawaan puisi secara bersama dan bersahut-sahutan

Pustaka:
Pusbang Gereja Toraja. 1996. Aluk Rambu Solo' dan Persepsi Orang Kristen Terhadap Rambu Solo'. 
                                     Pusbang Gereja Toraja. Rantepao.
Saroengallo, T. 2008. Ayah Anak Beda Warna: Anak Toraja Kota Menggugat. Tembi Rumah
                                     Budaya. Jogjakarta.


TERBENTUKNYA SEMESTA, DEWA DAN KEHIDUPAN DI BUMI MENURUT ALUK TO DOLO TERBENTUKNYA SEMESTA, DEWA DAN KEHIDUPAN DI BUMI MENURUT ALUK TO DOLO Reviewed by Torayaa on 6:17:00 AM Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.